Open Source itu TIDAK GRATIS


Open Source, apa yang ada di pikiran anda ketika mendengar kata kalimat tersebut ?
Saya yakin pasti satu kata ini yang muncul di pikiran anda : GRATIS. Mungkin kata itulah yang ada dipikiran kebanyakan orang Indonesia jika mendengar kata open source.

Sayangnya tidak semua produk Open Source itu gratis alias tidak berbayar. Entah kenapa setiap kali mendengar kata Open Source kebanyakan orang indonesia selalu menyimpulkan bahwa produk tersebut gratis. Mungkin (ini cuma perkiraan saya) hal ini disebabkan oleh salah tangkap apa yang dimaksud dengan Free Software. Ya, Open Source memang free software, tapi yang dimaksud FREE disini bukan berarti gratis (free of charge). Tapi arti kata dari free disini berarti FREEDOM (KEBEBASAN).

Kebebasan dalam hal apa ? Kebebasan dalam hal memodifikasi source code dari produk Open Source, dan kebebasan dalam mendistribusikan program tersebut. Itulah kenapa dinamakan Open Source, yang artinya (secara garis besar) source code-nya terbuka untuk semua orang dan dapat dimodifikasi.

Tentunya ada aturan yang mengatur semua kebijakan di dunia Open Source ini. Menurut saya, peraturan ini ada yang tertulis dan ada yang tidak tertulis. Peraturan yang tertulis sudah seperti undang-undang, sedangkan peraturan tidak tertulisnya berasal dari hati nurani dan etika masing-masing individu (menurut saya). Peraturan yang tertulis biasanya disebut sebagai lisensi.

Sebenarnya ada banyak lisensi yang malang melintang di dunia Open Source. Misalnya, GPL, LGPL, BSD License, Apache License, Mozilla License dlsb. Sayangnya saya tidak hapal semua isi lisensi tersebut.Disini saya akan menggunakan GPL sebagai contoh lisensi.
Inti dari GPL mengatakan begini :
“Anda boleh mendistribusikan program secara gratis ataupun komersial dan anda juga boleh mengubah source code dari program dan mendistribusikan kembali baik secara gratis ataupun komersial. Tapi ingat, anda juga harus membebaskan orang lain untuk berbuat hal yang sama pada program anda.”

Kira-kira seperti itulah inti dari GPL. Mungkin pembuat GPL berpikir begini :
“Enak banget kamu, udah modifikasi source code punya saya, tapi punyamu nggak di-Open Source-kan. Saya udah begadang, kerja keras siang malem sampe dibela-belain puasa cuma buat bikin program, eh kamu kok tinggal modif dikit trus kamu distribusikan secara komersial pula. Kalo gitu kamu juga harus melakukan hal yang sama pada programmu, bebaskan orang lain untuk berbuat hal yang sama pada programmu.
Kalo kamu nggak mau,jangan distribusikan programmu dengan cara apapun (dijual, disewakan, di-copykan ke teman, dlsb).”

Mungkin ada yang bertanya, “kalo ada yang modif program Open Source, tapi dia nggak distribusikan source code-nya, dan malah dibuat closed-source, gimana tuh ?” Nah itulah fungsinya peraturan yang tidak tertulis, peraturan dari hati nurani dan etika masing-masing individu.
Apakah orang yang seperti itu masih bisa dibilang punya hati nurani dan punya etika ? Silahkan anda tentukan sendiri jawabannya.

Kembali lagi ke permasalahan apakah produk Open Source itu gratis atau tidak. Sebenarnya tidak ada yang menyuruh meng-gratiskan produk Open Source. Hanya saja GPL menyuruh agar produk Open Source membuka source code untuk umum. Hal ini dilakukan agar tidak menimbulkan pikiran negatif akan produk tersebut dan juga orang/pihak lain dapat mengevaluasi dan produk tersebut bisa dikembangkan bersama pihak lain. Kebanyakan program Open Source didistribusikan secara gratis, itulah kenapa banyak orang Indonesia yang mengira dan berpikir bahwa produk Open Source itu gratis. Maaf, semua itu sangat salah !

Apakah anda pernah mendownload program gratis (free of charge), tapi closed source ? Apakah anda yakin bahwa program tersebut sudah bebas dari malware (virus, worm, trojan, backdoor, rookit,dlsb) ? Tentu saja anda yakin, karena anda sudah melakukan scanning pada program tersebut dengan antivirus terbaru dan terupdate. Apakah anda yakin program tersebut tidak mempunyai bug yang bisa menyebabkan komputer anda menampilkan layar cantik berwarna biru (Blue Screen Of Death)?

Tapi siapa yang bisa tahu program itu aman ? Antivirus milik anda ? Tidak ada yang menjamin program itu bebas dari ancaman malware ataupun bug. Kecuali, jika anda atau orang lain mengetahui source code dari program itu, dan anda tahu atau mengerti isi dari source code tersebut.

Untuk itulah kenapa Open Source ini lahir. Open Source dibuat agar produk yang dihasilkan bisa transparan, dalam artian bahwa produk tersebut bisa dievaluasi dan dikembangkan secara bersama, baik dari pihak pengembang maupun dari pihak ketiga.

Apa semua produk Open Source bebas dari bug dan malware ?

Bisa ya, dan bisa tidak. Iya, karena pengembang sudah melakukan riset punya komunitas/teman-teman yang mau membantu mengevaluasi dan mengembangkan produk sehingga menjadi produk yang sangat berkualitas. Selain itu pengembangnya tidak mempunyai pikiran untuk memasukkan kode-kode jahat ke dalam produknya.
Tidak, karena pengembang mungkin kurang teliti atau kurang cermat dalam membuat produk tersebut. Atau mungkin memang pengembang sengaja memasukkan kode-kode jahat ke dalam produk buatannya, contohnya : Artikel Jasakom: Hacker yang di hack.

Ada 3 produk Open Source yang tidak gratis (cuma ini yang saya tahu). Apa saja ? distro Red Hat Enterprise Linux (RHEL), SuSe, dan Mandriva edisi PowerPack. Ketiga produk ini memang Open Source, tapi anda harus membayar. Biasanya biaya yang dibayarkan ini digunakan agar anda dapat memperoleh dukungan resmi dari pihak mereka (bukan dari komunitas) dan mungkin ada tambahan fitur-fitur yang tidak dimiliki oleh distro edisi komunitas.
Apa ada diantara anda yang berminat membayar untuk ketiga distro ini ? Mungkin sebagian dari anda akan menjawab iya, dan sebagian besar lagi menjawab tidak. Tentunya jika anda memang ingin dukungan resmi dari pihak mereka, kenapa harus ragu untuk membayar ? Toh anda juga akan dilayani oleh staff ahli dari pihak mereka.

Apakah anda masih berpikir program Open Source itu selalu gratis ?
OK, misalkan begini (ini cuma angan-angan saya dan saya tidak tahu apakah akan benar-benar terwujud atau tidak) :
Jika OS Windows di-Open Source-kan, tapi anda tetap harus membayar penuh (sama seperti saat anda membeli OS Windows) untuk dukungan resmi dari Microsoft (misalnya, ada dukungan 24 jam,tersedia dukungan dalam bahasa indonesia, dan dukungan ini bisa diakses melalui telepon, email ataupun instant messenger), apakah anda mau membayar ?

Silahkan pikirkan jawabannya sendiri. Hanya anda yang tahu apa yang anda butuhkan.

Kesimpulan dari artikel yang ribet dan ruwet ini adalah :

  1. Open Source tidak gratis, tapi kebanyakan program Open Source didistribusikan secara gratis. Jika anda ingin mendistribusikan produk Open Source hasil ciptaan anda secara komersial, itu adalah pilihan anda, tidak ada yang melarangnya, kecuali lisensi yang anda gunakan untuk produk anda melarang anda untuk menjual produk ciptaan anda dan menyuruh anda untuk mendistribusikan program buatan anda secara gratis.
  2. Jika suatu saat anda menemukan sebuah program yang bagus dan anda ingin memilikinya secara gratis, jangan tanyakan apakah itu Open Source atau tidak. Tanyakan kepada pembuatnya apakah program itu gratis atau tidak.
  3. Membuat ataupun memilih produk Open Source adalah pilihan anda. Jangan mengikuti trend yang ada saat ini. Ikuti kebutuhan anda, hanya anda yang tahu apa yang anda butuhkan.

Akhir kata, saya mohon maaf apabila ada tulisan yang salah dan ada tulisan yang menyinggung pihak lain. Saya tidak bermaksud menyinggung apalagi menyakiti pihak lain. Saya disini hanya ingin berbagi pengalaman saya dalam menggunakan komputer. Saya ucapkan terima kasih telah membaca artikel saya yang ribet dan ruwet ini.
Semoga tidak ada lagi salah kaprah tentang produk Open Source (terutama di Indonesia).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s